Minggu, 01 Desember 2013

Biografi ibnu bajjah


1.        Riwayat Hidup Singkat :
Nama asli Ibnu Bajjah adalah Abu Bakar Muhammad Ibn Yahya al-Sha’igh. Didunia barat ia terkenal dengan nama Avempace. Dia berasal dari keluarga Al Tujib. Maka ia terkenal dengan sebutan Al Tujibi. Ibnu Bajjah lahir pada abad 11 M atau abad V H, di kota Saragossa sampai besar. Dia dapat menyelesaikan jenjang akademisnya, juga dikota Saragossa. Maka ketika pergi ke Granada, dia telah menjadi seorang sarjana bahasa dan sastra Arab dan dapat menguasai dua belas macam ilmu pengetahuan. Para ahli sejarah telah memandangnya sebagai orang yang berpengetahuan luas dan mahir dalam berbagai ilmu. Fath ibn Khaqan, yang telah menuduh Ibnu Bajjah sebagai ahli bid’ah dan mengecamnya dengan pedas dalam karyanya Qala’id al- Iqyan, pun mengakui  keluasan pengetahuannya dan tidak meragukan kepandaiannya. Karena menguasai sastra, tatabahasa, dan filsafat kuno, oleh tokoh-tokoh sezamannya dia telah disejajarkan dengan al-Syaih al-Rais ibn Sina. Lantaran ketenarannya yang makin menanjak, Abu Bakar Sahrawi, Gubernur Saragossa mengangkatnya sebagai pejabat tinggi pemerintahannya. Tapi ketika Saragossa jatuh ke tangan Alfonso I, Raja Aragon, pada tahun 512 H/1118 M, Ibnu Bajjah sudah meninggalkan Kota itu dan tiba di Seville lewat Valencia, tinggal disana dan menjadi tabib. Kemudian dia pergi ke Granada, Lalu dia pergi ke Afrika Barat-Laut. Setibanya di Syatibah, Ibnu Bajjah dipenjarakan oleh Amir Abu Ishaq Ibrahim ibn Yusuf ibn Tasyrifin, karena dituduh sebagai ahli bid’ah. Tapi menurut Renan, dia dibebaskan, barangkali atas anjuran muridnya sendiri yaitu ibn Rusyd. Kemudian setibanya di Fez, Ibnu Bajjah memasuki Istana Gubernur Abu Bakar Yahya ibn Yusuf ibn Tasyrifin, dan menjadi pejabat tinggi berkat berkat kemampuan dan pengetahuannya yang langka itu. Dia memegang Jabatan tinggi itu selama dua puluh tahun. Saat masa kesulitan dan kekacuan dalam sejarah Spanyol dan Afrika Barat-Laut Pelanggaran hukum dan kekacuan melanda seluruh negeri. Para Gubernur kota dan daerah menyatakan kemerdekaan mereka. Mereka yang bermusuhan saling menuduh sebagai berbuat bid’ah demi meraih keunggulan dan simpati rakyat. Musuh-musuh Ibnu Bajjah telah mencapnya sebagai ahli bid’ah dan beruasaha membunuhnya, tapi usaha  mereka gagal, Tapi pada tahun 533 H./1138M. di Fez, ibnu Bajjah berhasil dibunuh oleh Ibn Zuhr, seorang dokter termasyhur pada masa itu berhasil membunuhnya, dengan memasukkan racun kedalam tubuhnya. Ibnu Bajjah dimakamkan disamping makam Ibn AL-Arabi muda.



2.       Karya – karya :
Beberapa karya Ibnu Bajjah antara lain:
a.       Risalat al-Wada’                : berisi tentang ilmu pengobatan
b.      Tardiyyah                            : berisi tentang syair pujian
c.       Kitab al-Nafs                      : berisi tentang catatan dan pendahuluan dalam bahasa Arab

3.       Ajaran  :
a.       Materi dan bentuk
Menurut Ibnu Bajjah materi bereksistensi harus ada bentuk. Dia berargumen jika materi berbentuk, maka ia akan terbagi menjadi materi dan bentuk dan begitu seterusnya, ad infinitum. Ibnu Bajjah menyatakkan bahwa bentuk pertama merupakan suatu bentuk abstrak yang bereksistensi dalam materi yang dikatakan sebagai tidak mempunyai bentuk. Dalam tulisan Ibnu Bajjah, kata bentuk dipakai untuk mencakup berbagai arti : Jiwa, sosok, kekuatan, makna, konsep. Menurut pendapatnya, bentuk suatu tubuh memiliki tiga tingkatan : (1) bentuk jiwa umum atau bentuk intelektual, (2) bentuk kejiwaan khusus, dan (3) bentuk fisik. Bentuk-bentuk kejiwaan khusus mempunyai dua hubungan-hubungan khusus dengan yang berakal sehat dan hubungan khusus dengan yang terasa, sedangkan kejiwaan umum hanya memiliki satu hubungan dengan dan hubungan itu ialah dengan yang menerima.
b.      Etika
Tindakan manusia menurut Ibnu Bajjah menjadi dua yakni, yaitu : tindakan hewani dan tindakan manusiawi. Pertama, tindakan hewani timbul karena adanya motif naluri atau hal-hal lain yang berhubungan dengannya, baik dekat maupun jauh. Kedua, tindakan manusiawi timbul karena adanya pemikiran yang lurus dan keamanan yang bersih dan tinggi. Perbedaan antara kedua tindakan tersebut bagi Ibnu Bajjah adalah ada segi motifnya, bukan pada tindakannya itu. Ibnu bajjah berpendapat tindakan yang didasari oleh hasrat ruh untuk memperoleh suatu obyek yang bersifat kekal, keinginan itu disebut kesenangan dan ketiadaanya adalah kejemuan dan kesakitan.  Siapapun yang telah melakukan tindakan ini dianggap telah melakukan tindakan hewani. Dan mereka yang bertindak melalui pendapat atau pikirannya berarti telah bertindak secara manusiawi.


c.       Akal dan pengetahuan
Menurut Ibnu bajjah pengetahuan yang benar dapat diperoleh akal dan akal ini merupakan satu-satunya sarana yang dapat mewujudkan untuk mencapai kemakmuran dan membangun kepribadiannya. Dengan demikian akal merupakan bagian terpenting bagi manusia. Menurut Ibnu Bajjah akal memiliki dua fungsi yaitu memberikan imaji pada obyek yang akan diciptakan kepada unsur imajinasi dan memiliki obyek yang dibuat di luar ruh dengan menggerakan organ-organ tubuh. Selain itu Ibnu Bajjah berpendapat bahwa akal memiliki kemajemukan dan mengacu kepada akal pertama dan akal kedua. Akal manusia yang paling jauh adalah akal pertama, dan sebagian akal berasal dari akal pertama itu. Dan sebagian lain berasal dari akal-akal lain.
d.      Jiwa
Pembahasan terhadap jiwa, Ibnu bajjah mendasarkan terhadap fisika dan ia memulai dengan definisi jiwa dan menyatakan bahwa tubuh, baik yang alamiah maupun yang tidak alamiah tersusun dari materi dan bentuk-bentuk merupakan perolehan permanen atau kenyataan tubuh. Kenyataan ini bermacam-macam, ia memiliki segala yang bereksistensi yang melaksanakan fungsi mereka tanpa harus digerakan atau segala yang bergerak atau aktif bila mereka diaktifkan. Tubuh jenis kedua ini terdiri atas penggerak dan yang digerakan. Sedangkan tubuh yang tidak alamiah memiliki penggerak luar, dan bentuk yang membuat nyata sebuah tubuh alamiah inilah yang disebut jiwa. Karena itu jiwa dianggap sebagai pernyataan pertama dalam tubuh alamiah dan teratur yang bersifat nutritif (mengandung zat-zat untuk badan) sensitif (kepekaan) dan imajinatif (rasional). Menurut Ibnu Bajjah jiwa yang berhasrat terdiri atas tiga unsur yaitu, (A) hasrat imajinatif, yang melaluinya anak keturunan dibesarkan individu-individu dibawa ketempat-ketempat tinggal mereka dan memiliki rasa sayang, cinta dan yang semacamnya. (B) hasrat menengah, yang melaluinya timbul nafsu akan makanan, perumahan, cinta dan ilmu. (C) hasrat berbicara, yang melaluinya timbul pengajaran, ini merupakan hasrat khusus yang dimiliki oleh manusia, tidak seperti kedua hasrat lainnya.
e.      Filsafat politik
Ibnu Bajjah sangat menyetujui politik Al-Farabi seperti membagi negara menjadi negara sempurna dan tidak sempurna, konstitusi harus disusun oleh kepala negara dan kedudukannya harus selalu berada lebih tinggi dari orang-orang lain pada kesempatan-kesempatan tertentu. Dalam risalah al-Wada Ibnu Bajjah memberikan dua fungsi alternatif negara: (1) untuk menilai perbuatan rakyat guna membimbing mereka mencapai tujuan yang mereka inginkan. Fungsi ini paling baik dilaksanakan didalam negara ideal oleh seorang penguasa yang berdaulat, (2) fungsi alternatif ini yaitu merancang cara-cara mencapai tujuan-tujuan tertentu, persis sebagai mana seseorang penunggang yang mahir. Ini merupakan fungsi pelaksana-pelaksana negara-negara yang ideal. Dalam hal sang penguasa disebut rais (pemimpin). Sang pemimpin menerapkan di negara itu suatu sistem tradisonal untuk menentukan seluruh tindakan rakyat.
f.        Tasawuf
Ibnu Bajjah mengagumi sosok al-Ghazali dan menyatakan metode al-Ghazali memampukan orang untuk memahami pengetahuan tentang Tuhan dan bahwa metode ini didasarkan pada ajaran-ajaran nabi suci. Sang suhfi menerima cahaya didalam hatinya, cahaya hatinya merupakan suatu spekulasi, yang lewat spekulasi itu hati melihat hal-hal yang dapat dipahami seperti orang melihat objek yang tertimpa sinar matahari lewat penglihatan mata, dan lewat pemahaman hal-hal yang dapat dipahami ini dia melihat semua yang melalui implikasi mendahului mereka atau menggantikan mereka. Menurut Ibnu Bajjah Tuhan adalah pencipta utama segala tindakan sehingga segala yang ada, berada dalam pengetahuan Tuhan dan hanya Tuhan yang mampu mendatangkan kebaikan kepada mereka.




Sumber :
·         Mustafa, H.A. 2007. Filsafat Islam. Pustaka Islam: Bandung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar