Ketika mentari mulai menyinari jendela kamarku, mataku mulai terbuka dan tubuhku mulai terangkat dari tempat tidur bermotif bunga-bunga dengan dasar yang berwarna putih, namun tidak dengan pikiranku, secara tiba-tiba memori masa laluku mulai membayangiku, dan hal itu telah mengingatkanku tentang apa arti kehidupan yang sesungguhnya. Mungkin sebelumnya, aku tidak pernah menduga hal ini dapat terjadi padaku, tapi itulah kehidupan, kita tidak dapat menebak apa yang akan terjadi di hari esok, yang dapat kita lakukan hanyalah menjalani hari ini dengan sebaik mungkin, dengan harapan apa yang kita lakukan hari ini dapat bermanfaat di hari esok. Setelah cukup lama aku terdiam dan memikirkan semua itu, aku segera menyiapkan diri untuk pergi ke tempat kerjaku yang terletak di daerah Jakarta selatan.
Sesampainya disana, ternyata sudah ada beberapa client yang menungguku, hal itu mereka lakukan agar bisa berkonsultasi denganku. Aku pun segera memasuki ruangan tempat mereka mencurahkan segala permasalahan yang sedang melanda kehidupan mereka. Satu persatu mereka telah meninggalkan ruangan itu, dan tepatnya saat seorang gadis remaja memasuki ruanganku, aku melihat sesosok gadis dengan penuh kesedihan, wajahnya sama sekali tidak melukiskan keceriaan gadis remaja yang seusianya. Saat ia tepat berhadapan denganku, air mata mulai membanjiri pipi merah jambu miliknya, Padahal ia belum mengutarakan tentang apa yang terjadi dengannya. Setelah beberapa menit gadis itu terdiam, mulut kecilnya mulai menceritakan tentang masalah yang tengah dihadapinya.
Menurut gadis mungil yang kira-kira usianya sekitar 16 tahun itu, ketika kita harus kehilangan sesuatu yang sangat berarti dalam hidup kita, itu adalah hal tersulit dalam hidup kita untuk dijalani, dan menurutnya ketika kita kehilangan materi hal itu dapat lebih mudah untuk di kembalikan, namun apabila yang hilang dari dalam diri kita adalah orang tua, maka hal itu tidak bisa di kembalikan ke dalam hidup kita. Setelah aku memberikan solusi dari masalah yang sedang di hadapinya. Gadis itu pun kini mulai bisa mengembangkan senyuman manis dari bibirnya dan ia pun telah mampu melanjutkan kehidupannya walau tanpa didampingi orang tua, karena orang tua gadis itu telah meninggalkannya untuk selamanya.
Detik demi detik terus berlalu hingga tiba saatnya aku harus pulang dari tempat kerjaku. Sepanjang perjalanan pulang ke rumah aku terus memikirkan perkataan gadis itu, dan hal itu kembali mengingatkanku tentang memori masa kecilku dulu, yang mungkin tidak terlalu indah, tapi hal itu adalah satu hal yang telah berhasil mengubahku menjadi seperti saat ini. Beberapa tahun yang lalu, aku merupakan seorang anak yang terlahir di keluarga yang sederhana. Ayahku bekerja sebagai satpam di salah satu perusahaan swasta dan ibuku berwirausaha di rumah, hal itu dilakukan Ibu dengan dalih untuk membantu kondisi perekonomian keluarga kami. Aku merupakan anak terakhir dari tiga bersaudara. Jarak antara aku dan kakakku yang pertama hanyalah empat tahun. Sedangkan jarak antara aku dan kakakku yang kedua adalah tiga tahun.
Awalnya kehidupan kami berjalan dengan baik-baik saja meskipun dengan kondisi keuangan yang pas-pasan, namun saat aku menduduki kelas enam SD (Sekolah Dasar) rumah yang sudah kami tempati sejak bertahun-tahun yang lalu, telah dilalap habis oleh si jago merah, dan akibatnya harta yang tersisa dari rumah kami hanyalah beberapa surat-surat penting dan beberapa potong pakaian seragam Ayah, aku dan kedua orang kakakku. Maka dari itu kami sekeluarga harus mengontrak rumah, dengan ukuran yang lebih kecil dari rumah kami sebelumnya karena uang yang ada di kantong Ibu tidak mencukupi untuk mengontrak di rumah yang ukurannya lebih besar daripada itu, meskipun begitu kami semua tetap bersyukur, karena kami masih diberikan kesempatan untuk hidup lebih lama di dunia ini. Begitulah orang tuaku, mereka selalu mengajarkan tentang arti sebuah keikhlasan dalam menerima sesuatu yang terjadi pada kita.
Sehari sesudah kebakaran itu Ibu dan Ayah tidak memiliki uang lagi, sehingga terpaksa Ibu harus meminjam uang ke tetangga sekitar rumah. Uang itu digunakan untuk ongkos kerja Ayah dan kakakku yang pertama, Sedangkan aku dan kakakku yang kedua, pergi ke sekolah dengan berjalan kaki. Lelah terus mendampingi langkah kakiku saat sedang menuju ke sekolah. Tidak terasa 30 menit sudah waktu berlalu, dan akhirnya aku pun tiba di sekolah. Hari itu, aku tidak dapat berkonsentrasi dengan baik karena pikiranku terbagi oleh apa yang kami sekeluarga sedang alami. Setelah waktu belajar berakhir, aku kembali ke rumah dengan bayangan tentang kejadian yang menimpa keluargaku.
Tidak terasa olehku, waktu tiga bulan telah berlalu. Kenangan buruk serta luka yang aku rasakan pun satu persatu sudah mulai membaik, walaupun sebenarnya kenangan itu akan selalu membekas didalam ingatanku. Tidak hanya kondisi batin saja yang mulai membaik, namun kondisi perekonomian keluarga kami pun mulai bangkit kembali. Semua itu berkat kerja keras dan kerja sama yang baik, antara Ayah dan Ibu dalam mengelola keuangan di rumah kami. Ibu pun kini kembali merintis usahanya, dengan berjualan gado-gado. Ibu mulai berjualan dari pukul 12.00 wib sampai dengan pukul 17.00 wib. Semua itu dilakukannya, agar kami putra dan putrinya dapat memperoleh pendidikan yang setara dengan orang lain, meskipun sering kali kelelahan tampak jelas menyelimuti wajahnya, akan tetapi ia tetap menerima semua keadaan ini dengan keikhlasan. Menurutku dia adalah wonder women yang sesungguhnya, karena Ibu selalu memberikan kami kebahagiaan, lewat kasih sayang yang tulus dan ia pun rela melakukan apapun agar kami dapat terus merasakan kebahagiaan.
Serupa dengan Ibu, Ayah pun merupakan sesosok pemimpin yang sangat bijaksana, Ia mampu membangunkan kami dari keterpurukan saat semua yang telah kami miliki harus hilang begitu saja. Ayah terus membanting tulang untuk mencukupi kebutuhan keluarga kami, walaupun setiap hari ia harus berhadapan dengan panasnya terik matahari namun ia tidak pernah mengeluh sedikit pun kepada kami. Saat aku harus mengulas kembali kenangan yang menyedihkan itu, Air mataku terus mengalir, seakan-akan kedua mataku ini ikut merasakan apa yang aku sedang rasakan.
Kenangan yang paling mengiris hatiku adalah ketika aku sedang menghadapi ujian nasional, Ibu terbaring lemah di rumah sakit akibat penyakit paru-paru yang sudah sejak lama dideritanya, dan Ibu berkata padaku agar aku menjadi anak yang mandiri dan tidak mudah menyerah ketika aku sedang menghadapi kegagalan. Mungkin itu adalah pesan terakhir dari Ibu, karena bertepatan dengan hari terakhir aku menempuh ujian nasional ternyata Ibu menghembuskan napas terakhirnya, dan saat itu aku tidak dapat menemani saat-saat terakhirnya karena aku harus menempuh ujian nasional. setelah selesai ujian nasional, dengan bergegas aku berlarian menuju ke rumah dengan tujuan setelah berganti pakaian, aku ingin segera menemani Ibu di rumah sakit.
ketika beberapa langkah lagi aku akan tiba di rumah, aku mendapati rumahku sudah di penuhi banyak orang dengan wajah yang berkabung. Seketika itu pun juga air mata ku mengalir dengan sangat derasnya, kakiku pun tak berdaya seakan-akan ia tidak mampu menopang tubuh kecilku ini. Setapak demi setapak, kulangkahkan kakiku dengan diiringi rasa kesedihan yang sangat mendalam, meskipun sebenarnya aku belum mengetahui siapa yang berada di balik kain batik itu, saat aku tepat berada didepan tubuh yang sudah kaku tak berdaya, tanganku mencoba untuk meraih kain yang menutupi wajahnya, aku memberanikan diri untuk membukanya, dan ternyata aku mendapati orang yang paling berarti dalam hidupku ini telah meninggalkanku untuk selamanya. Aku sungguh tidak menyangka di saat aku ingin menceritakan apa yang aku alami hari ini kepada Ibu, itu semua tidak bisa kulakukan karena Ibu telah meninggalkan kami semua dengan begitu cepatnya.
Ibu telah meninggalkanku lebih dari 40 hari, namun aku belum dapat bangkit dari keterpurukanku, meskipun Ayah sudah berkali-kali menenangkanku, tapi hal itu sulit untuk aku lakukan. Ujian nasional maupun ujian sekolah telah aku lewati, dan kini tiba saatnya kenaikan kelas bagi siswa kelas satu sampai kelas lima, namun bagi siswa kelas enam ini adalah saat-saat pengumuman juara umum dari angkatanku. Acara hari itu adalah acara pertamaku tanpa seorang Ibu, hatiku terasa seperti teriris ketika melihat teman-teman sebayaku yang datang bersama kedua orang tua mereka, tapi aku tidak dapat berbuat apa-apa, selain menangis dan mendoakan Ibu agar ia diterima di sisi Tuhan.
Saat aku sedang menangis di dekapan Ayah, ternyata namaku terpanggil untuk naik keatas panggung, karena tahun ini aku adalah juara umum dari sekolahku. Aku pun naik keatas panggung untuk menerima piala yang diberikan oleh kepala sekolah. Sejenak ingatanku terhadap Ibu berkurang, namun setelah aku turun dari atas panggung, ingatan ku kembali mengarah kepada Ibu, dengan segera aku dan Ayah menuju makam Ibu. Sesampainya disana mataku terpana, sungguh tidak menyangka bahwa aku seorang anak kecil yang sebentar lagi akan beranjak remaja, harus hidup tanpa didampingi seorang Ibu. Sulit sekali bagiku menerima kenyataan ini, karena seumur hidupku aku tak akan bisa lagi memeluk, bermanja, dan mencurahkan semua kisahku kepadanya.
Saat aku akan mendaftarkan diri ke sekolah menengah pertama, aku tidak di dampingi oleh siapa-siapa, karena Ayah tidak bisa meninggalkan pekerjaanya, wajar saja hal itu dilakukan Ayah, karena Ayah hanya seorang satpam, apabila Ayah meninggalkan pekerjaannya, ia dapat diberhentikan dari pekerjaannya. Untuk itu aku mendaftarkan diriku sendiri, tanpa didampingi oleh orang tua atau kakak ke sekolah favorit yang sudah lama aku mimpi-mimpikan, meskipun awalnya aku tidak percaya diri untuk mendaftar ke sekolah negeri itu, namun aku teringat ucapan Ibu, bahwa musuh terbesar ketika kita ingin meraih kesuksesan adalah diri sendiri, karena itulah aku memberanikan diri untuk mendaftar sekolah tanpa didampingi oleh kedua orang tuaku, yang ada hanyalah teman-teman sebayaku.
Seminggu setelah pendaftaran, waktu pengumuman itu tiba, dan hasilnya aku diterima di SMPN 2, aku pun segera ingin menyampaikan kabar bahagia ini kepada Ayah. Sesampainya dirumah Ayah sudah menyambutku dengan beberapa masakan yang Ayah masak sendiri. Ketika Ayah mendengar berita itu, Ayah segera memelukku, dan ia pun berkata dia bangga memiliki anak sepertiku. Kata-kata itu sangat membuatku bahagia, meskipun terdengar sangat sederhana tetapi aku merasa seperti mendapatkan hadiah yang tak ternilai harganya. Benar kata Ayah kebahagiaan tidak selalu dilihat dari materi, kata-kata yang sangat sederhana pun dapat memberikan kebahagiaan yang begitu besar untukku.
Ketika waktu masuk sekolah tiba, aku sedikit berbeda dengan anak-anak yang lain, karena seragam yang aku kenakan sedikit terlihat kusam. Hal itu dikarenakan Ayah belum memiliki cukup uang untuk membeli seragam baru, dan oleh karena itu seragam yang aku kenakan merupakan peninggalan dari kakakku. Awalnya aku sempat merasa kurang percaya diri, karena seragam dan sepatu yang aku kenakan tidak sebagus teman-teman baruku, namun untuk kesekian kalinya, Ayah memberikan petuah bijaknya kepadaku. Menurutnya orang akan menilai diri kita bukan hanya dari penampilan luarnya saja, akan tetapi kemampuan dan ahlaklah yang akan menentukan apakah kita dapat diterima atau tidak di tengah-tengah masyarakat. Kata-kata itulah yang telah meyakinkanku bahwa aku akan diterima di tengah-tengah masyarakat, bila aku berbuat baik kepada orang lain.
Ayahku memanglah orang yang sangat sederhana, namun pemikirannya mengenai makna hidup ini sangatlah berbeda jauh dengan penampilan luarnya. Ia selalu mampu menyelesaikan masalah yang sedang aku alami. Tak pernah ku sangka sebelumnya ia pun juga mampu menjadi sosok seorang Ibu bagi kami anak-anaknya. Sungguh aku merasa beruntung telah memiliki seorang Ayah yang bijaksana sepertinya. Ayah pun selalu mengingatkan ku bahwa, aku harus memiliki tekad yang kuat ketika aku ingin meraih sesuatu yang diinginkan, namun tekad itu tidak akan berarti apapun apabila kita tidak melandasinya dengan doa dan usaha.
Setelah aku berhasil menerapkan prinsip itu, aku pun berhasil menjadi juara pidato Bahasa Inggris, dan karena itu semua, aku berhasil mewakili kotaku untuk mengikuti pertukaran pelajar. Aku menceritakan itu semua kepada Ayah, lalu Ayah menyerahkan semua keputusanku untuk memilih semua itu, karena Ayah telah menyetujuinya maka aku pun mengikuti pertukaran pelajar ke kota Aceh. Saat itu aku menduduki kelas 2 SMP semester genap. Aku melakukan pertukaran pelajar selama 6 bulan. Selama disana aku benar-benar harus belajar mandiri. Meskipun fasilitas telah disediakan, namun dana yang diberikan belum dapat mencukupi semua kebutuhanku. Maka dari itu meskipun aku baru berusia 14 tahun, aku menawarkan diri untuk memberikan les privat kepada siswa-siswi yang lain, walaupun aku harus bangun pagi setiap hari, namun aku tetap melakukannya karena dari situlah aku mendapatkan uang tambahan untuk memenuhi kebutuhanku.
Setelah 6 bulan berlalu maka waktu pertukaran pelajar pun sudah berakhir dan itu artinya aku harus kembali ke pelukan keluargaku dan teman-teman yang menyayangi ku, sesampainya di rumah, kakak dan Ayah menyambutku dengan penuh kehangatan, dan mereka sudah tidak sabar untuk mendengarkan ceritaku, dengan segera aku menceritakan pengalamanku selama disana satu persatu secara mendetail. Pengalaman itu, tidak akan pernah aku lupakan karena berkat usaha kerasku dan iringan doa dari Ayah, itu semua dapat aku raih.
Selulusnya dari SMP aku melanjutkan ke SMA (sekolah menengah atas). Aku melanjutkan ke SMA yang letaknya tidak jauh dari rumahku. Ketika pertama kali aku mengenakan pakaian putih abu-abu yang ku rasakan adalah sebuah perasaan yang sangat sulit dilukiskan dengan kata-kata, terlebih lagi teman-teman yang aku miliki mau menerimaku apa adanya. Benar sekali kata orang masa SMA adalah masa yang paling berkesan. Selama di SMA aku mengenal hal-hal baru, Seperti tempat-tempat baru, karakter orang yang lebih berwarna-warni dan untuk pertama kalinya aku merasakan yang namanya cinta.
Saat aku mengenal yang namanya cinta, semua yang aku lakukan di sekolah terasa lebih berwarna, tapi hal itu membuat pola belajarku menjadi kurang baik, nilai-nilai mata pelajarku pun menjadi sedikit menurun. Efek itulah yang aku rasakan setelah aku mengenal yang namanya cinta, tapi untungnya Ayah mengingatkanku agar aku tetap harus rajin belajar meskipun aku mengenal namanya cinta. Berkat perkataan Ayah, aku mulai dapat memperbaiki nilai-nilai mata pelajaranku yang beberapa waktu lalu sempat menurun.
Setelah setahun sudah aku menjadi siswa SMA, ini adalah saat yang paling menentukan masa depanku, yaitu saat penjurusan ipa dan ips. Sempat beberapa kali aku merasakan ke bimbangan untuk menentukan jurusan yang apa yang akan aku pilih. Aku menanyakan kepada Ayah tentang penjurusan ini, akan tetapi Ayah tidak memberikan saran tentang jurusan yang terbaik untukku akan tetapi yang Ayah berikan hanyalah sebua kata-kata yang bijaksana, karena menurut Ayah apapun yang akan aku pilih, Ayah akan tetap mendukung keputusanku. Akhirnya aku memutuskan diri untuk memilih jurusan ips karena sesuai dengan cita-citaku sejak dini, aku ingin menjadi seorang psikolog, untuk itu aku ingin lebih memahami ilmu kemasyarakatan agar aku dapat membantu orang lain untuk menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi. Meskipun sebenarnya aku tidak tahu apakah aku dapat meraih cita-cita ku itu atau tidak, karena kondisi keuangan keluargaku yang tidak seperti keluarga yang lain, tapi hal itu tidak menyurutkan cita-citaku sedikitpun juga.
Untaian cerita yang sudah terjalin sejak SMA, hanya dengan hitungan hari itu semua akan segera berakhir karena aku akan segera memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Kesedihan sangat terasa diantara kami, karena kami yang sudah berteman selama tiga tahun, harus berpisah untuk menempuh masa depan yang lebih baik. Sebenarnya yang membuatku sedih bukan hanya karena akau akan meninggalkan teman-temanku an tetapi aku masih belum mengetahui apakah aku dapat melanjutkan ke perguruan tinggi atau tidak.
Bersyukurlah semua itu tidak bertahan lama, karena aku mendapatkan informasi dari guru-guru bahwa aku dapat masuk ke perguruan tinggi melalui jalur PMDK. Aku berhasil di terima di Universitas Indonesia, oleh karena itu aku mengambil jurusan psikologi sesuai dengan keinginanku. Tidak seindah yang dibayangkan, karena kondisi keuangan kami yang sederhana maka untuk membayar semesteran maka aku harus bekerja freelance, selain itu aku juga sempat menulis beberapa artikel untuk di terbitkan di sebuah majalah Ibu kota.
Aku melakukan itu semua ± selama 4 tahun. Perjuangan yang berat terus aku jalani agar aku dapat memiliki gelar sarjana, dan dengan begitu aku dapat membahagiakan orang tuaku satu-satunya yaitu Ayah, terlebih lagi Ayah kini sudah pensiun dari pekerjaanya, sehingga aku tidak ingin di usia tuanya, ia harus bersusah payah untuk bekerja. Kedua orang kakakku telah menikah dan akibatnya mereka semua sudah menikah dan oleh Karena itu, mereka tidak dapat mengurusi Ayah sepenuhnya. Maka dari itu akulah yang memiliki kewajiban untuk menjaga Ayah setelah Ibu meninggal sejak 10 tahun yang lalu.
Setelah lulus dari perguruan tinggi, bukan berarti aku dapat dengan mudah mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan gelar sarjana yang aku miliki. Butuh waktu beberapa bulan agar dapat memperoleh pekerjaan yang layak denganku, maka dari itu aku masih bekerja freelance untuk menunggu pekerjaan itu. Dengan penuh kesabaran aku menunggu panggilan dari lamaran pekerjaan yang telah aku kirimkan ke beberapa perusahaan. Hingga akhirnya aku bertemu dengan teman SMAku di sebuah pusat perbelanjaan di daerah Jakarta utara. Disana kami bercanda gurau untuk melepaskan kerinduaan diantara kami berdua, sampai akhirnya ia menawariku pekerjaan si perusahaan yang ia pimpin, aku pun menyetujinya untuk bekerja disana.
Akhirnya sampai sekarang aku masih bekerja di perusahaan itu, dan aku bisa memperoleh apapun yang aku inginkan dengan hasil usahaku sendiri. Kini Ayah pun sudah bisa ku berangkatkan naik haji, dan itu semua aku peroleh berkat usaha dan doa dari Ayah dan Ibu. Meskipun Ibu telah tiada tapi aku yakin di altiba saja terhm sana Ibu selalu mendoakan keberhasilanku. Tidak hanya itu saja petuah-petuah yang diberikan oleh Ayah dan Ibu telah mampu mengubah hidupku menjadi seperti ini.
Ban mobil yang sedang di kendarai oleh supirku, tiba-tiba saja terhenti oleh karena itu aku tersadar dari ulasan memori masa laluku, yang telah membuat mataku sembab serta napas ini menjadi tersendak-sendak. Ternyata aku telah tiba di rumah yang aku beli dengan hasil jerih payahku sendiri dan setibanya disana kedatanganku telah disambut oleh Ayah. Memang setelah aku berhasil membeli rumah itu, aku mengajak Ayah untuk tinggal bersamaku karena aku tidak akan tega melihat ayah yang usianya sudah tidak muda lagi harus tinggal sendirian dirumah kontrakan yang ukurannya kecil.
Aku segera memeluk ayah karena aku tidak sanggup harus mengenang masa lalu yang tidak terlalu indah dijalani, namun benar kata Ayah, kalau kita ingin meraih kesuksesan maka butuh usaha yang gigih agar apa yang kita inginkan dapat kita capai. Hari itu sungguh benar-benar menguras air mataku, tidak hanya air mata kesedihan, akan tetapi air mata kebahagian pun ikut hadir mendampingiku. Sungguh aku tidak pernah menyangka aku dapat menjadi seperti ini. Terima kasih Ayah dan Ibu berkat engkau aku dapat menjadi seperti ini.
keberhasilan adalah kemampuan untuk bangkit dari kegagalan dan memperbaiki semuanya. Jadi kalau kita ingin berhasil, kita tidak boleh hanya menunggunya tetapi kita harus berusaha untuk meraihnya, karena keberhasilan tak akan datang dengan sendirinya.
"Mungkin selama ini kita sering melupakan peranan sosok ayah sehingga terkadang kita lupa untuk memberikan perhatian yang lebih seperti kita memberikan perhatian kepada ibu, padahal dibalik tubuhnya yang tangguh dan kuat, ayah memerlukan perhatian yang sama besarnya seperti yang dibutuhkan ibu, untuk itu ketika kita akan memberikan perhatian pada ibu, janganlah lupa untuk memberikan perhatian yang sama untuk ayah. Abah, (begitulah aku memanggilmu) I love u"
by : Nini
"Mungkin selama ini kita sering melupakan peranan sosok ayah sehingga terkadang kita lupa untuk memberikan perhatian yang lebih seperti kita memberikan perhatian kepada ibu, padahal dibalik tubuhnya yang tangguh dan kuat, ayah memerlukan perhatian yang sama besarnya seperti yang dibutuhkan ibu, untuk itu ketika kita akan memberikan perhatian pada ibu, janganlah lupa untuk memberikan perhatian yang sama untuk ayah. Abah, (begitulah aku memanggilmu) I love u"
by : Nini